Filsafood. Tulisan bergizi untuk akal dan jiwa yang sehat
shokuiku - filsafood.com

SHOKUIKU, pendidikan makan di Jepang


Shokuiku, pendidikan makan di Jepang. Diawal kedatangan keluarga saya disini, saya sempat ditanya oleh salah satu sensei saya, Kishimoto sensei yang baru saja pensiun tahun ini. Salah satu topik penelitian dia mengenai program makan siang di Jepang dan beberapa negara. Dia menanyakan mengenai bagaimana cara kami mensiasati program makan siang di SD tempat si Kakak sekolah. Karena dia mengetahui bahwa kami muslim, dan makanan yang disediakan sebagian besar bukanlah makanan halal. Akhirnya kami banyak cerita, diskusi dan akhirnya saya banyak tahu mengengai hal ini. Beliau juga memberikan saya beberapa bacaan mengenai program makan siang anak-anak sekolah di Jepang yang sangat bagus menurut saya. Menurut saya ini adalah salah satu pelajaran inti pembentukan karakter anak-anak Jepang.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sekolah-sekolah dasar dan SMP di Jepang menyediakan makan siang untuk siswa-siswanya. School Lunch Program atau di Jepang dikenal dengan Shokuiku adalah program pemerintah yang di aplikasikan oleh kurang lebih 31.000 sekolah atau 99.9% sekolah di Jepang saat ini. Program ini bukan program baru hasil dari kunjungan studi banding bapak-bapak pejabat.

Foto yang saya sertakan itu adalah foto yang saya ambil dari poster Conference tahunan ahli nutrisi dan stake holdernya yang khusus membahas mengenai program makan siang di sekolah dasar di Jepang. Artinya apa? tiap tahun mereka berkumpul membicarakan program ini, memberikan hasil evaluasi dan rekomendasi program

Sejak era Meiji

Shokuiku dimulai sejak tahun 1889 (era Meiji) yang dipelopori oleh para pendeta Buddhist untuk memberi asupan gizi yang baik bagi anak-anak miskin di sekolah dasar di kota Tsuruoka, Provinsi Yamagata. Program ini kemudian diadopsi oleh sebagian besar sekolah di Jepang sejak periode Meiji (1868-1912) dan Taisho (1912-1926). Biaya untuk program makan siang ini ditanggung oleh pihak swasta, yah semacam CSR nya pada saat itu.

Setelah perang dunia pertama, sekitar 1932, shokuiku kemudian diambil alih pemerintah dan mewajibkan semua SD dan SMP melaksanakan program ini karena saat itu 100.000 anak-anak mengalami status gizi buruk seperti yang dialami oleh anak-anak di Papua beberapa waktu yang lalu. Untung waktu itu tidak ada insiden kartu kuning pada perdana menteri.

Namun sayang, program ini sempat berhenti saat akhir perang dunia kedua, akibat bom dan kekalahan perang. Dari hasil evaluasi kementrian pendidikan saat itu melihat bahwa program ini sangat baik untuk kesehatan fisik dan pemenuhan gizi anak yang sangat membantu dalam proses belajar. Mereka tetap mengupayakan agar program tersebut harus tetap berjalan. Anak-anak yang sehat adalah modal utama membangun negeri.

Yah memang prinsipnya seperti itu, otak tidak akan mampu bekerja dengan baik kl energi dan gizi yang dibutuhkan kurang. Otak butuh kalori dari perombakan glukosa. Saya pun mengalami masalah jika mengajar pada saat jam sebelum makan siang dan sore hari, mahasiswa-mahasiwa saya itu sudah tidak ada yang konsen, biasa sy kira mereka ngobrol ternyata suara itu berasal dari perut mereka. Lebih parah lagi ngajar saat setelah jam makan siang, yang sudah makan pada kekenyangan dan muka ngantuk, yang belum makan karena ngirit uang kiriman lebih parah lagi,ngikut kuliah antara ada dan tiada di dalam kelas.

Shokuiku setelah perang dunia kedua

Salah satu permintaan pemerintah Jepang selama pendudukan USA di Jepang setelah perang yaitu agar USA dapat membatu menjalankan shokuiku bagi anak-anak sekolah. UNICEF mendonasikan susu dan pemerintah USA menyumbang terigu khusus untuk program ini selama tahun 1949-1951. Setelah bantuan itu berakhir, pemerintah Jepang tetap kewalahan untuk mensuport biaya operasionalnya.

Akhirnya pada tahun 1956, dilakukan rapat antara pemerintah dan perwakilan emak-emak yang memiliki anak sekolah. Pemerintah bilang, ibu-ibu supaya anak-anak kita tetap memiliki badan yang sehat, kuat dan selalu semangat agar dapat belajar dengan baik dan dapat membangun negeri ini kelak, maka program makan siang ini harus terus dilanjutkan, namun sayang kami kekurangan duit. Emak-emak pun sadar akan penting dan bermanfaatnya program ini kemudian menimpali, kami para emak-emak setuju program ini harus tetap berjalan, karena selain dapat menyehatkan juga dapat mengurangi volume cucian piring di rumah. Akhirnya pemerintah nawarin, oke kalau gitu bagaimana kalau biaya operasionalnya dibagi dua saja. Akhirnya semuanya setuju tanpa diskusi panjang, tanpa nyablon kaos, demo, perang tangar, dan perang meme dulu.

Saat ini rata-rata per anak dikenakan biaya untuk makan siang sebesar ¥4000. Khusus untuk si Kakak, kami hanya membayar ¥1000 saja untuk biaya susu, karena untuk makan siang si Kakak membawa bento dari rumah.

Kegiatan Shokuiku

Shokuiku di Jepang bukan hanya menyuruh anak-anak makan siang. Kalau mau tahu mengapa orang-orang jepang sangat jarang yang gendut-gendut, pada langsing-langsing, sangat paham dengan higienitas, sangat menghormati atau respek pada orang lain, sangat bersih, sangat paham dengan kesetaraan, dan toleransi yah karena mereka belajar banyak dari program ini selama mereka sekolah dulu hingga terbawa sampai skrng.

Didalam kelas, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok untuk bertugas menyediakan dan melayani teman-temannya untuk makan siang. Teman-teman yang dilayani belajar antri dan tertib menerima makanan. Sebelum makan salah satu dari mereka akan membacakan kandungan gizi dari menu hari itu. Guru biasa menambahkan dan menyisipkan pelajaran gizi dan nutrisi agar sedari kecil paham makanan apa saja yg bisa bikin perut gendut, apa aja yang bisa bikin awet muda, kulit mulus bebas panu dan jerawat, membuat rambut hitam tak berketombe, atau makanan apa aja yang bisa bikin berotot.

Teman saya pernah menawari ice cream kepada kami saat summer, namun salah satu teman menjawab bahwa dia sudah cukup kalori hari ini, dia sudah makan 1500 kalori hari ini dan meminta agar ice cream itu di simpan di kulkas saja dulu. Dasar anak nutrisi! bathin saya berucap.

Pelajaran gizi dan moral dari shokuiku

Pada kegiatan shokuiku, guru juga biasa menceritakan asal mula makanan yang mereka makan, mulai dari bapak dan ibu tani, penjual di pasar, hingga makanan itu dimasak oleh koki di dapur sekolah atau dapur umum untuk satu wilayah. Dari situ anak2 bisa respek dan menghargai profesi-profesi tersebut, menghargai makanan, tidak mencela, dan selalu bersyukur dan berterima kasih. Dari situ anak-anak paham bahwa makanan itu tidak begitu saja ada didepan mulut mereka, banyak pengorbanan dan harga yang harus dibayar.

Terkadang pada moment-moment tertentu menu yang disajikan adalah makanan tradisional, dan sekali lagi bukan hanya sekedar makan, namun dijelaskan juga mengenai pelajaran budaya dibalik makanan itu.

Terkadang diajarkan membaca informasi gizi yang ada di label susu, diajarkan bagaimana membuka kotak susu yang telah kosong sebelum dibuang ke tempat sampah, diajarkan tentang kemasan makanan, table manner, dan pelajaran-pelajaran sepeleh lainnya.

Diakhir bulan, sekolah selalu mengirimkan kepada orang tua daftar menu makan siang untuk satu bulan kedepan yang dibuat oleh ahli nutrisi. Tiap sekolah juga harus memiliki guru yang memiliki sertifikat ahli nutrisi. Jadi menu yang tersaji bukan asal-asalan. Daftar menu yang diberikan lengkap dengan kandungan gizi dan jumlah kalorinya.

Diawal tahun ajaran baru, orang tua juga harus mengisi daftar alergi dari anak-anaknya supaya menjadi perhatian bagi pihak sekolah.

Membersihkan sekolah bagian dari shokuiku

Setelah makan siang mereka kemudian bersama-sama membersihkan satu sekolah, anak-anak kelas 6 menjadi leader dari tiap kelompok mengatur adek-adek kelasnya untuk melakukan kerja bakti tiap hari. Mulai dari taman sampai kamar mandi. Diakhir semester kakak kelas yang menjadi leader biasa menuliskan surat terima kasih kepada anggota tim nya atas kerja samanya selama ini. Dan selalu menyisipkan pesan agar tetap semangat dan rajin belajar. Ah.. betapa manis nya mereka. Program bersih-bersih ini juga termasuk dalam kegiatan Shokuiku.

Dari makan saja, mereka bisa membentuk karakter anak. Membentuk karakter bukan dari membaca buku, menghapalkan dan dites saat ujian. Tapi harus dilakukan…!!!!. Pelajaran itu tidak akan mereka lupa hingga besar, bukan menjadi hapalan kemudian lupa.

Orang tua saya dulu ketika kami kecil selalu berkata jika di suruh makan saja susah, apalagi disuruh kerja..!

Selamat hari pendidikan.

Salam.
Okayama, 2 Mei 2018

Februadi Bastian
Kontributor

Seorang dosen Ilmu pangan di Universitas Hasanuddin. Saat ini sedang pusing dengan penelitian S3-nya mengenai Natural Compound di Okayama Pref. University Japan.
Tulisannya juga dapat dibaca di februadibastian.blogspot.com

Leave a Reply

You are donating to : Filsafood donation

How much would you like to donate?
$10 $20 $30
Would you like to make regular donations? I would like to make donation(s)
How many times would you like this to recur? (including this payment) *
Name *
Last Name *
Email *
Phone
Address
Additional Note
Loading...