Filsafood. Tulisan bergizi untuk akal dan jiwa yang sehat
produk rekayasa genetika

Produk Rekayasa Genetika, goodbye GMO.


Mungkin karena sudah terlanjur memiliki kesan yang buruk pada produk-produk rekayasa genetika, akhirnya USDA (Kementrian Pertaniannya USA) mengganti namanya menjadi “Bioengineered Food“. Kemudian USDA juga mewajibkan semua produk yang telah direkayasa genetiknya wajib menggunakan logo barunya pada tiap kemasan

bioengineered logo
Logo Bioengineered yang menggantikan GMO

Mau tidak mau, produk-produk GMO (Genetically modified Organisms), atau transgenik (bukan transgender yah..), atau rekayasa genetika ada disekitar kita. Kecap atau tempe saja yang sebagian besar kedelainya berasal dari impor adalah kedelai-kedelai yang belum tentu dijamin tanpa rekayasa genetika. Demikian juga dengan gandum, gula, atau kentang.

Jumlah manusia di bumi semakin banyak, dan sudah jelas semuanya butuh makan. Produksi massal pada industri-industri pertanian sangat membutuhkan produk-produk yang super. Produk tersebut harus memiliki daya tahan terhadap penyakit tumbuhan, mampu meningkatkan produktivitas, meningkatkan nilai gizi, memperpanjang umur simpan, atau untuk mempercantik penampilan warna atau ukuran. Semuanya itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar industri pangan dan perut manusia

Perkebunan Pepaya di Hawai. Pepaya yang tumbuh ini adalah hasil rekayasa genetika untuk menghasilkan pepaya yang tahan terhadap serangan Papaya Ringspot Virus. | Foto: Apsnet.org

Salah satu metode untuk mendapatkan produk-produk hasil pertanian seperti itu yah… dengan memodifikasi struktur genetik nya. Mengutak-atik protein, susunan asam amino pada DNA tanaman

Dengan rekayasa genetika, produksinya bisa dua sampai berkali-kali lipat dibandingkan vegetasi tanpa rekayasa genetik. Jelas, ini sebuah solusi untuk lahan pertanian yang semakin berkurang, dan solusi untuk menghemat waktu dan biaya produksi.

Pro kontra produk rekayasa genetika

Kalau masih belum bisa bayangkan prosesnya, nonton saja opening film spiderman. Di intro filmnya menampilkan ilustrasi beberapa bagian dari struktur DNA Peter Parker digantikan dengan DNA laba-laba yang menyengatnya. Modifikasi DNA ini akhirnya menyebabkan dia bisa lompat seperti katak, dan menempel sambil diam-diam merayap seperti ciciak di dinding… (spiderman itu siluman laba2 atau katak?, atau cicak sih?)
.

Nih potongan intro film Spiderman saat struktur DNA Peter Parker berubah akibat sengatan Laba-laba.

Yang jelas produk-produk GMO telah menjawab permasalahan kualitas dan produksi hasil pertanian yang saya sebutkan diatas. Namun bukan berarti produk ini tidak memiliki masalah juga. Bagi aktivis anti-GMO, bioteknologi ini adalah upaya mengobok-obok kodrat alami suatu makhluk hidup, dan bisa saja menyebabkan keseimbangan alam raya terganggu karenanya

Makanya jika diterapkan pada manusia, rekayasa genetika ini sangat tidak etis. Proyek China yang membuat bayi dengan rekayasa genetika saja ditentang habis-habisan dari segala penjuru dunia. Padahal dari dulu manusia secara tidak langsung telah melakukan rekayasa genetika in vivo. Contohnya, orang jelek menikah dengan orang cakep supaya keturunannya nanti genetikanya berubah jadi setengah cakep.. #ehh… hehehehe

Produk rekayasa genetika pada makanan

Karena yang diobok-obok itu adalah protein, maka efek samping yang paling banyak dilaporkan dari produk GMO adalah alergi makanan. Selain alergi efek lainnya yaitu gen transfer pada mikroba dalam usus dan juga efek outcrossing pada tanaman asli. Khusus mengenai alergi makanan, saya sudah menulisnya sebelumnya

Baca juga: Alergi makanan, sebuah overprotecting pertahanan tubuh

Sebagian besar alergi makanan disebabkan karena tubuh mengenali komponen asing yang dianggap berbahaya. Sebagian besar alergen ini adalah senyawa-senyawa protein. Makanya makanan-makanan alergi itu adalah makanan-makanan sumber protein seperti gluten (ptotein pada gandum), kasein pada susu, protein kacang, telur, atau makanan laut

Di Indonesia beberapa komoditi seperti tebu, jagung, kentang, dan kedelai juga sudah banyak dikembangkan. Sampai tahun 2016, terdapat 21 jenis pangan produk rekayasa genetika yang telah mendapatkan sertifikat keamanan pangan Produk Rekayasa Genetika. Infonya bisa dicek di website http://indonesiabch.menlhk.go.id/

Nah bagi konsumen yang memiliki perut sensitif, keberadaan informasi pada label pangan mengenai ada tidaknya kandungan bahan-bahan dari rekayasa genetik ini sangat bermanfaat. Tapi yah… karena terlanjur kesan dari produk rekayasa genetika itu berbahaya, sangat jarang produk yang menuliskan jika produk mereka mengandung bahan baku dari hasil rekayasa genetika

USDA mengubah nama GMO

Di USA, 85 % produksi jagung, 91% produksi kedelai and 88% produksi kapas adalah hasil dari rekayasa genetika. Sedangkan di industri makanan, 75% makanan olahan yang dijual di supermarket mengandung bahan dari hasil rekayasa genetika.

Produksi jagung85%
Produksi kedelai91%
Produksi Kapas88%

Persentasi jumlah produksi jagung, kedelai, dan kapas dari produk GMO di USA

Karena stigma negatif pada produk rekayasa produk, USDA pada bulan Desember tahun lalu telah mengubah namanya menjadi bioengineered food. Boleh dibilang ini adalah kemenangan politik bagi penggiat GMO mulai dari peneliti, pemilik modal, dan produsen produk GMO untuk meminimalisir kesan buruk produk-produk rekayasa genetik.

Definition of “Bioengineering” and “Bioengineered Food”
The amended Act defines “bioengineering” with respect to a food as referring to a food “(A) that contains genetic material that has been modified through in vitro recombinant deoxyribonucleic acid (DNA) techniques; and (B) for which the modification could not otherwise be obtained through conventional breeding or found in nature.”

– Kurang lebih begitu penjelasannya dalam peraturan baru USDA.

Mungkin sama dengan Ahok, setelah keluar dari penjara tidak mau dipanggil Ahok lagi, tapi ingin dipanggil BTP (Basuki Tjayang Puput). Hehehe.

Bahan bacaan:

  1. Disable world
  2. WHO: faq-genetically-modified-food
  3. https://s3.amazonaws.com/public-inspection…/2018-27283.pdf
  4. The conversation
  5. https://ihavenotv.com/food-evolution
Februadi Bastian
Kontributor

Seorang dosen Ilmu pangan di Universitas Hasanuddin. Hobi motret, masak, dan design grafis.
Tulisannya juga dapat dibaca di februadibastian.blogspot.com



1 Response

  1. Pingback : Seberapa terkenalnya tempe di luar negeri? | filsafood

Leave a Reply

You are donating to : Filsafood donation

How much would you like to donate?
$10 $20 $30
Would you like to make regular donations? I would like to make donation(s)
How many times would you like this to recur? (including this payment) *
Name *
Last Name *
Email *
Phone
Address
Additional Note
Loading...