Filsafood. Tulisan bergizi untuk akal dan jiwa yang sehat
omiyage

Omiyage dan kemasan pangan di Jepang


Omiyage dan kemasan pangan di Jepang. Di Okayama stasiun, ada sebuah toko oleh-oleh makanan ciri khas Okayama. Saya singgah sebentar disana untuk melihat-lihat apa saja yang dijual.

Seperti orang Indonesia, orang Jepang jika berpergian ke suatu tempat juga selalu membeli oleh-oleh khas yang unik dari tempat yang mereka kunjungi. Oleh-oleh ini biasa juga disebut omiyage. Jika musim liburan telah selesai diatas meja saya selalu ada omiyage dari teman-teman yang baru saja mudik atau liburan dari luar negeri.

Saya selalu terkesima dengan teknologi kemasan makanan khususnya untuk omiyage dari Jepang. Bukan hanya menggunakan hi-tech pack technique melainkan juga didesain dengan selera seni yang tinggi, lucu, berkarakter, dan tidak asal-asalan. Belum pernah saya menemukan kemasan pangan yang dibuat asal-asalan dari produk makanan jepang apalagi unutk omiyage. Bahkan krupuk pun didalamnya sudah lengkap dengan absorber uap air dan oxigen untuk mencegah timbulnya jamur atau ketengikan.

Cara mereka mengemas makanan memang sangat memperhatikan keamanan, perubahan fisik dan kimia makanan yang dikemas, konsistensi, dan kemudahan untuk melepasnya.

Orang Jepang itu tidak suka membuat orang lain merasa susah. Begitu pula dalam mengemas makanan, jika kamu kesusahan membuka kemasan makanan yang made in Japan, itu berarti kamu tidak membaca petunjuknya. Misalnya membuka kemasan onigiri yang terdiri dari tiga langkah.

Onigiri. source: http://gethiroshima.com

Onigiri di Jepang yang banyak dijual di convenience store merupakan salah satu teknologi mengemas makanan yang hi-tech menurut saya. Nasi yang berbentuk segitiga itu memiliki nori berwarna hitam yang sebenarnya terpisah dalam satu kemasan untuk menghidari nori yang terbuat dari rumput laut menyerap air dari nasi sehingga tetap kering dan renyah saat dimakan. Namun saat kemasan onigiri dibuka norinya akan menyatu dengan nasinya. Bagi yang penasaran dengan cara membuka onigiri silahkan cari di youtube banyak yang membahas mengenai itu.

Baka

Ada sebuah anekdot diantara kami orang Indonesia disini, jika ada kemasan makanan yang sulit dibuka, coba cek buatan mana? Pasti bukan made in Jepang, tapi kalau makanan tersebut made in Jepang, berarti kamu “Baka” (bahasa jepang bodoh) atau memang kemasannya bisa juga langsung dimakan hahahaha.

Waktu tiga orang sensei saya mengunjungi Makassar tahun lalu, mereka membawa pulang beberapa kue lidah kucing, dan kue baruasa khas Makassar yang dibeli di Somba Opu, asli saya malu ketika mereka membuka kemasan plastik bening yang di rekatkan menggunakan stapler kertas atau klip dan isolasi bening disepanjang pinggir kemasan plastik. Saat dibuka mereka berkata “abunai” (bahaya..!) ketika mengetahui ada paper klip stapler. Mereka tau bahwa itu tidak pantas digunakan sebagai bagian untuk mengemas makanan, karena takut akan tertelan. Dalam hati saya bilang, aduh santaimi biasaji itu, hahahaha.

Belum lagi desain labelnya yang di print menggunakan print yang tintanya sudah mau habis dan ikut luntur ke warna putih kue baruasanya, saya cuman bilang, “tenang… tintanya dari bahan natural, aman dimakan..” dan kemudian saya mengambil dan memakannya untuk membuktikan, Hahahaha. Saya cuman takut karena perut made in Japan mereka tidak sekuat dengan perut vacum cleaner saya yang made in Indonesia.

Prihatin

Prihatin..? iya saya prihatin, tapi saya mengerti. Untuk urusan makanan, Jepang dengan teknologi budidaya pertanian dan distribusi nya sudah sangat established. Jadi mereka tidak khawatir lagi mengenai ketersediaan dan ketahanan pangan, sehingga mereka bisa memikirkan masalah selanjutnya yaitu keamanan pangan mereka. Indonesia belum bisa memikirkan serius mengenai keamanan pangan untuk menyediakan pangan sehat dan aman tanpa pengawet, kontaminasi bakteri atau bahan kimia berbahaya jika tiap tahun masih ribut masalah impor beras, garam, dan gula untuk menutupi stok dalam negeri.

Urusan keamanan pangan pun Jepang sudah sudah lama selesai dengan masalah itu, sehingga mereka memikirkan masalah tersier lainnya seperti inovasi kemasan pangan, teknologi memperpanjang umur simpan dan pengembangan produk. Untuk tahapan ini pun kreativitas industri pangan dalam mengemas dan berinovasi menciptakan produk makanan sudah pada level Dewa-Dewi.

Ketika mereka telah selesai dengan masalah tersier yaitu kemasan dan pengembangan produk, mereka mencoba mencari berinovasi lagi pada makanan fungsional, makanan hasil inovasi bioteknologi atau bahkan berinovasi mengenai makanan halal. Saat ini di Jepang mereka lagi gencar2nya berinovasi mengenai makanan halal. Mereka tidak akan mungkin sampai pada tahap ini jika urusan diatas tentang ketahanan, keamanan, kemasan, dan pengembangan produk belum selesai pemirsa.

Saya masih berdiri didepan deretan omiyage-omiyage itu sampai penjaga tokonya menegur… “ada yang bisa saya bantu kakak…” saya tidak bisa menjawabnya karena wajahnya mirip Miyabi. Sekian.

Salam,
Okayama 2018.01.17

Februadi Bastian
Kontributor

Seorang dosen Ilmu pangan di Universitas Hasanuddin. Saat ini sedang pusing dengan penelitian S3-nya mengenai Natural Compound di Okayama Pref. University Japan.
Tulisannya juga dapat dibaca di februadibastian.blogspot.com

1 Response

Leave a Reply

You are donating to : Filsafood donation

How much would you like to donate?
$10 $20 $30
Would you like to make regular donations? I would like to make donation(s)
How many times would you like this to recur? (including this payment) *
Name *
Last Name *
Email *
Phone
Address
Additional Note
Loading...