Filsafood. Tulisan bergizi untuk akal dan jiwa yang sehat
ikan kaleng

Isu cacing pada ikan kaleng


Isu cacing Ikan Kaleng. Sorang teman tiba-tiba menanyakan mengenai kasus ikan kaleng yang mengandung u̶m̶p̶a̶n̶ cacing di Indonesia. Dia membaca dari berita online di internet.

Kasus ini sebenarnya sudah tidak hot lagi dibahas, karena sekarang yg rame dibahas itu masalah tunggakan listrik om FZ, anak SMP yang kebelet pipis eh nikah, dan bunker raja miras oplosan. Tapi sebagai orang ilmu pangan yah gatal juga membahasnya.

Waktu itu saya pengen bahas juga masalah cacing ini, cuman tidak sempat. Saya lihat sudah banyak status, meme dan tulisan yang membahas mengenai itu, mulai dari yang berbau lawak, berbau keilmuan, berbau politik, sampai berbau agama.

Cacing dalam ikan

Kata teman saya di Jepang juga pernah ditemukan beberapa kasus penemuan cacing dalam daging sushi atau sashimi. Tapi karena mereka tau ilmunya jadi tidak teralu khawatir. Mereka tinggal nanya dan inspeksi apakah keberadaan cacing itu bahaya atau tidak melalui proses pengolahannya.

Banyak juga yang nanya saya, kira-kira darimana cacing itu sampai bisa masuk ke dalam kaleng?. Berbagai teori dari sudut pandang ilmu pangan pernah saya dengar. Bahkan ada pula yang menghubungkan dengan ilmu hitam. Katanya kasus ini sama dengan cara memasukkan paku dalam perut manusia, atau ikan lele dalam kelapa.. Hahaha ada-ada saja.

Yang jelas cacing itu bisa ada di dalam kaleng bukan karena kontamiasi selama processing. Cacing itu ada bukan muncul saat pengolahan di pabrik, tapi memang karena selama hidupnya ikan itu sudah mengandung cacing.

Semua makhluk hidup secara alami memiliki parasit dalam tubuhnya. Parasit ini seperti serangga atau ulat yang bisa ditemukan pada buah dan sayur.

Efek penyakit dari parasit yang ditimbulkan oleh parasit juga lebih rendah dibandingkan efek penyakit dari makhluk yang tidak kelihatan oleh mata seperti mikroba atau virus. Tapi yang namanya penyakit apapun penyebabnya, tetap ga enak.

Perjalanan cacing hingga ke daging ikan

Cacing pada ikan yang biasa disebut nematoda ini adalah parasit umum yang terdapat pada ikan. Ada dua jenis yang dapat menginfeksi manusia yaitu anisakid nematoda (pada ikan air laut) dan tapeworm (ikan air tawar). Semuanya punya siklus hidup yang panjang. Awalnya cacing ini berasal dari air tawar, namun dibawa oleh ikan yang menghabiskan separuh hidupnya di air tawar separuh di air asin, sehingga ikan air asin ada juga yang cacingan.

Cacing dalam tubuh ikan air laut akan bercerita. Pada zaman dahulu kala ikan salmon memakan larva nenek moyang cacing di daerah air tawar saat mereka melakukan kawin massal yang disponsori pemda setempat. Saat perjalanan pulang ke laut, mereka ketemu dengan singa laut atau anjing laut lapar yang memakan ikan-ikan salmon yang telah disusupi nenek moyang cacing. Cacing atau larva terbebut berkembang biak dalam tubuh singa laut kemudian dikeluarkan saat pup. Udang yang tak memiliki otak di kepala tanpa pikir panjang kemudian memakan kotoran singa laut. Kemudian udang-udang yg telah mengandung larva tersebut dimakan lagi oleh ikan-ikan yang lain. Inilah sebab populasi para cacing semakin banyak dan susah disensus. Kira-kira gitu ceritanya.

Saya kemudian bertanya ke teman saya bagaimana dengan sushi atau sashimi yang menggunakan bahan mentah. Apa mereka tidak khawatir dengan cacing atau larva cacing yang ikut tertelan?. Kata mereka selagi mereka tidak melihat cacingnya yah ga papa.. Hahahaha. Tapi mereka tidak takut, karena sekali lagi mereka tau ilmunya.

Mereka lebih takut makan ikan goreng yang digoreng berlebihan atau dibakar yang jelas-jelas mengandung AGEs (advanced glycation end producs) penyebab kanker, atau ikan dari laut yang terkontaminasi merkuri.

Cacing dan alergi

Teman yang lagi mendalami ilmu parasitologi bilang salah satu kelebihan orang cacingan yaitu dia tidak memiliki alergi yang parah heheheh. Dia telah meneliti kotoran anak2 Indonesia dan Jepang. Anak-anak Jepang terkenal sangat bersih sehingga di fesesnya sangat sulit ditemukan cacing dibandingkan feses anak-anak Indonesia. Namun keberadaan cacing di feses anak-anak Indonesia ternyata mampu meminimalkan efek dari berbagai alergen penyebab alergi dibandingkan anak-anak Jepang.

Sebagian besar nematoda tersebut tidak cocok hidup di tubuh manusia sebagai hostnya, dan butuh perjalanan dan perjuangan yang berat selama proses pencernaan untuk mendapatkan lingkungan yang sesuai untuk tinggal, makan, kawin, beranak, merawat dan menyekolahkan anak-anak mereka dengan baik di dalam tubuh manusia. Inipun terbukti dengan penelitian teman saya tadi yang sangat susah menemukan cacing dalam feses anak-anak Jepang, padahal disini mereka makan ikan mentah. (Mohon dikoreksi dokter Joko).

Ikan yang digunakan sebagai bahan baku sushi atau sashimi memang ikan mentah, karena makanan Jepang sangat mengutamakan rasa asli dari ikan atau bahan lainnya. Pertanyaannya bagaimana mereka mematikan parasitnya tanpa melalui proses pemanasan?.

Ingin tau jawabannya? Silahkan baca versi berbayar dari tulisan ini, hahahaha…

Pengolahan ikan kaleng

Sebagian besar daging ikan tersebut telah dibekukan untuk mematikan parasit-parasitnya. Bukan sembarang metode pembekuan yang dilakukan. Untuk mematikan parasitnya daging ikan harus melalui proses pembekuan cepat pada suhu <-37C selama 15 jam. Pembekuan ini harus menghasilkan kristal es kecil agar tidak merusak struktur dan tekstur daging ikan. Ini juga memerlukan teknik thawing atau pelelehan yang tepat.

Bagaimana dengan pemanasan? Parasit nematoda juga akan mati jika dipanaskan pada suhu 65C selama 15 menit, tapi dengan syarat, suhu itu sudah sampai pada daging paling dalam juga.

Parasit tidak sama dengan beberapa jenis bakteri termofilik tahan panas yang membentuk tameng spora saat dipanaskan, sehingga tidak perlu suhu 121C untuk mematikan mereka. Yang bahaya itu jika menemukan ikan kaleng yang gembung, itu artinya ada bakteri berspora yang hidup, makan, dan berkembangbiak yang disebut melakukan fermentasi anaerobik hingga menghasilkan gas CO2 yang menyebabkan kaleng menjadi kembung. Itu asli bahaya guys…

Nah ikan kaleng itu sudah melalui pemasakan dengan suhu tekanan tinggi hingga tulang-tulangnya saja bisa jadi lembek gitu. InsyaAllah cacing parasit beserta telur-telur (kecuali telur palsu) yg ditemukan sebesar parutan kelapa itu sudah pada almarhum/almarhuma semua. Kalau masih khawatir pocong-pocongnya itu cacing masih hidup, masak lagi ikan kaleng nya sampai mendidih, pasti cacing2 nya pada bertobat minta ampun karena mereka merasa sedang masuk dan merasakan api neraka.

Penemuan BPOM

Penemuan bapak-ibu peneliti dari Balai POM itu juga sudah diperjelas bahwa cacing yang ditemukan itu tinggal jasadnya saja. Kalau masih hidup berarti Bapak-Ibu dari Balai POM tersebut telah menemukan sebuah penemuan terbesar abad ini dalam bidang biologi yaitu cacing mutant anti panas dari proses mutasi gen bakteri pembentuk spora yang jika dijadikan film fiksi-ilmiah akan berjudul X-Worm.

Struktur gennya kemudian diidentifikasi dan diaplikasikan pada manusia Indonesia yang gampang panas karena tinggal di bawah garis katulistiwa sehingga dapat tetap nyaman dengan suhu udara dan politik yang makin tinggi akibat pemanasan global dan menjelang pilpres sehingga negara Endonesiah tidak jadi bubar tahun 2030.

Jadi saat istri saya nanya “Papa sayang, gimana nanti kalau balik ke Indonesia apa masih mau makan ikan kaleng?” Saya bilang aja, kalau sampai harga ikan kaleng terjun bebas gara-gara kandungan cacingnya, cepat borong, kita akan pesta ikan kaleng, hahaha.

Jadi apa yang dibilang ibu menteri itu emang ada benarnya, bukan ngebelanya, cuman yah ilmunya emang gitu. Ibu menteri tidak punya waktu dan terkesan menyepelekan hal itu. Secara ilmu dan logika emang benar, cuman secara moral dan estetikanya, ketika menyebut cacing yah pasti semua jijik, apalagi makan makanan yang mengandung cacing. Yang bikin jijik mungkin karena bayangin cacing sebesar cacing tanah yang dijadikan umpan saat mancing ikan, padahal cacingnya imut-imut lebih kecil dari parutan kelapa.

Untung ibu menterinya tidak nyinggung2 agama. Misalnya bilang “kalau baca Basmalah sebelum makan ikan kaleng, InsyaAllah tetap sehat”. Bisa berabe si Ibu.

Saran saya untuk produsen ikan kaleng, supaya produknya tetap laku, sebaiknya buat promo beli 2 ikan kaleng berhadiah 4 biji obat cacing.

Ditulis saat maraknya isu ikan kaleng bercacing

Februadi Bastian
Kontributor

Seorang dosen Ilmu pangan di Universitas Hasanuddin. Saat ini sedang pusing dengan penelitian S3-nya mengenai Natural Compound di Okayama Pref. University Japan.
Tulisannya juga dapat dibaca di februadibastian.blogspot.com

Leave a Reply

You are donating to : Filsafood donation

How much would you like to donate?
$10 $20 $30
Would you like to make regular donations? I would like to make donation(s)
How many times would you like this to recur? (including this payment) *
Name *
Last Name *
Email *
Phone
Address
Additional Note
Loading...