Filsafood. Tulisan bergizi untuk akal dan jiwa yang sehat
bento

Bento, kisahnya dulu dan kini



Bento dapat dengan mudah ditemukan di convenience store atau mini market, stasiun, supermarket, atau bahkan di mall di Jepang. Kesibukan para pekerja-perkerja jepang menyebabkan mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengolah dan memasak untuk makanan sehari-hari. Tahu tidak jika istilah bento pertama kali disebutkan oleh Oda Nobunaga, panglima samurai di periode Momoyama yang sangat terkenal?

Kisah masa lalunya

Periode Kamakura (1185-1333)
Hoshi-ii, nasi yang dikeringkan yang dapat dimakan langsung atau dimasak kembali | Foto:
moribitonokai.net

Pada masa ini orang-orang yang keluar rumah untuk bekerja selalu membawa hoshi-ii. Hoshi-ii adalah nasi yang telah dikeringkan yang dapat langsung dimakan atau di redehydrasi (dimasak ulang) hingga menjadi nasi. Boleh dibilang ini adalah teknologi pengolahan pangan nasi-instant. hehehe.

Orang-orang yang membawa hashi-ii adalah para pekerja-pekerja yang biasa meninggalkan rumah dalam jangka watu berhari-hari. Nasi kering ini selain lebih tahan lama dibandingkan nasi, juga lebih mudah diolah lagi menjadi nasi yang lembek dibandingkan dengan beras. Sampai sekarang pun masih banyak yang membuat hoshi-ii, tapi sudah jarang untuk dijadikan bekal. Pada masa ini nama bento belum dikenal, namun hoshi-ii ini sangat populer untuk dijadikan bekal yang praktis.

Periode Azuchi-Momoyama (1568-1603)
Tempat bento yang terbuat dari kayu | Foto: www.bunka.pref.mie.lg.jp
Kotak bento yang dijual di toko online barang antik, harganya 33.000 yen (4,2 juta rupiah) | Foto: etsy.com

Pada periode ini telah dikenal kotak makan yang terbuat dari kayu. Kotak ini biasa dibawa pada saat hanami (gathering bersama keluarga dan kerabat sambil menikmati sakura) atau pada saat acara minum teh. Pada periode ini, Oda Nobunaga (1534-1582), biasa membagikannya pada orang-orang yang tinggal di istananya. Dari sinilah awal mula kata bento dikenal untuk makanan yang disajikan praktis dalam kotak.


Periode Edo (1603-1868)

Periode Edo dikenal dengan salah satu masa tenang dan masa kejayaan di Jepang. Pada jaman ini bento mulai terkenal lebih luas. Orang-orang sering keluar rumah untuk piknik dimusim panas, atau menonton theater dengan membawanya dan makan bersama.

Koshibento, onigiri yang dibungkus daun bambu. Foto: allabout-japan.com

Pada masa ini, orang jepang biasa membawa koshibento. Koshibento adalah onigiri (rice ball, atau nasi yang berbentuk segitiga) yang dibungkus dengan daun bambu. Pada zaman inilah onigiri mulai dikenal.

Makunouchi | Foto: upload.wikimedia.org

Pada zaman Edo juga mulai dikenal makunouchi, yang masih bisa dijumpai sampai sekarang. Pada umumnya penataan bento saat ini diadopsi dari makunouchi yang berisi nasi yang ditaburi wijen, tamagoyaki (telur dadar gulung), ikan, acar, dan sayuran.


Periode Meiji (1868-1912)

Pada periode ini, pembangunan rel kereta api dimulai. Seiring dengan pembangunan jalur kereta api, bento pun beradaptasi. Ekiben mulai populer saat itu dan bisa ditemui di stasiun kereta api. Ekiben dipercaya pertama kali dijual di Stasiun Utsunomiya di Propinsi Tochigi pada tahun 1885.

Ekiben, sangat populer untuk mereka yang bepergian jauh menggunakan kereta api. | Foto: Flickr

Hingga kini ekiben masih dapat ditemui di convinience store di stasiun kereta. Menunya adalah nasi dengan porsi yang lebih banyak dan saat ini ada sekitar 2000 jenis ekiben yang dijual.

Periode Taisho (1912-1926)

Pada masa ini adalah salah satu masa-masa sulit di Jepang saat Perang Dunia pertama. Bento bahkan menjadi salah satu simbol disparitas kekayaan. Gagal panen di daerah Tohoku juga menjadi salah satu penyebab kelaparan di Jepang saat itu.

Almunium bento | Foto: rakuten

Saat itu kotak makan terbuat dari almunium. Hanya orang-orang kaya yang membawa bento ke kantor atau sekolah saat itu. Akhirnya dikeluarkan aturan untuk melarang membawa kotak makan ke sekolah untuk mengurangi kesenjangan dan menggantikannya dengan program makan siang di sekolah, shokuiku.

Bento jaman now

Sejak tahun 1980an, bento kembali booming. Sejak saat itu, industrinya mulai berkembang. Bukan lagi hanya dibuat oleh ibu rumah tangga, namun telah dibuatkan industri. Bahkan sebaliknya para ibu rumah tangga lebih memilih membeli bento yang lebih praktis untuk menyajikan makanan sehari-hari.

Bento yang dijual di seven eleven | Foto: theoccasionalnomads.com

Bagi orang yang bukan orang jepang, mereka lebih mengenal bento dengan hiasan-hiasan yang dibentuk dengan berbagai karakter. Di Jepang, jenis ini dikenal dengan nama kyaraben. Kyaraben biasanya buat anak-anak yang dibuatkan khusus oleh ibu mereka untuk acara piknik sekolah, undokai (semacam pekan olah raga dan seni disekolah) ataupun untuk acara piknik keluarga.

Kyaraben, bento yang dihiasi karakter-karakter kartun | Foto: Kayos

Di Jepang, market bento sangat besar sekali. Salah satu tempat arubaito (kerja paruh waktu) saya adalah membuat bento. Jika ingin mengintip gimana proses industrinya klik saja websitenya Shinobu food. Perusahan tempat saya arubaito tersebut memiliki 8 pabrik di Jepang yang mampu menghasilkan 1 juta box perhari. Pabrik di Osaka mampu memproduksi onigiri 3000 buah per jam. Dengan asumsi jumlah penduduk Jepang sebanyak 126.8 juta (thn 2017), perusahan ini telah menyediakan kotak makan untuk kurang lebih 1/100 jumlah penduduk Jepang. Dengan produksi 1 juta box perhari apa mampu diserap pasar?, jawabnya iya.

Ah.. pengen rasanya punya pabrik nasi bungkus di Indonesia, hehehe.

Februadi Bastian
Kontributor

Seorang dosen Ilmu pangan di Universitas Hasanuddin. Hobi motret, masak, dan design grafis.
Tulisannya juga dapat dibaca di februadibastian.blogspot.com

Leave a Reply

You are donating to : Filsafood donation

How much would you like to donate?
$10 $20 $30
Would you like to make regular donations? I would like to make donation(s)
How many times would you like this to recur? (including this payment) *
Name *
Last Name *
Email *
Phone
Address
Additional Note
Loading...