Filsafood. Tulisan bergizi untuk akal dan jiwa yang sehat
alergi makanan

Alergi makanan, sebuah overprotecting sistem pertahanan tubuh



Alergi makanan. Hari ini saya mengikuti kuliah umum mengenai Food Allergy. Topik ini memang salah satu topik yang menarik di bidang ilmu pangan. Beberapa penelitian mencoba mengisolasi jenis-jenis protein atau komponen aktif pada makanan yang dapat menyebabkan alergi pada manusia. Topik penelitian lain yaitu mengenai memproduksi produk makanan yang tidak mengandung alergen.

Sebenarnya mekanisme alergi itu adalah mekanisme pertahanan tubuh. Ketika kita alergi terhadap sesuatu, tubuh akan mengenali senyawa itu sebagai senyawa yang berbahaya bagi tubuh. Karena rasa sayang dan rasa cinta tanah airnya, immune system dalam sel tubuh kita akan memproduksi antibody immunoglobulin E atau biasa disebut IgE.

IgE ini adalah elit militer dalam pertahanan tubuh yang mampu memerintahkan satuan komando Mast cell yang memiliki berbagai senjata biologi. Mast cell ini mampu mengeluarkan senyawa-senyawa kimia. Senjata-senjata kimia ini akan ditembakkan jika IgE bertemu dengan penyusup zat alergen untuk dilumpuhkan.

IgE akan diproduksi jika tubuh mengenali sebuah zat alergen dan IgE akan mengaktifkan sel Mast untuk memproduksi senyawa anti alergen tersebut | Foto: nature.com

Salah satu jenis senyawa itu adalah histamin. Histamin dan senyawa lain diproduksi oleh Mast cell atas perintah IgE. Jika histamin ini menempel pada syaraf akan memicu rasa gatal, batuk, terkadang memproduksi lendir, diare, dan dapat juga menyebabkan otot-otot saluran napas berkontraksi sehingga menyebabkan sulit bernafas. Ini adalah gejala umum saat terserang alergi.

Alergi makanan VS keracunan makanan

Histamin ini bukan hanya diproduksi oleh tubuh manusia. Beberapa jenis ikan khususnya dari family Scombridae dan Scomberesocidae, atau ikan pelagik juga memproduksi histamin. Ikan jenis ini diketahui mengandung kadar histamin yang cukup tinggi seperti ikan tuna, sarden, makarel. Dibandingkan dengan cumi-cumi, udang, dan kerang, jenis ikan ini memiliki kandungan histamin yang lebih tinggi.

Jika setelah memakan ikan ini kemudian timbul rasa gatal, muncul ruam, mual atau bahkan diare, kemungkinan ini disebabkan karena keracunan histamin, bukan alergi pada daging ikannya. Histamin pada daging ikan disebabkan oleh dekomposisi senyawa histidin selama proses penyimpanan.

Misinformasi mengenai alergi makanan

Jadi harus dibedakan mana alergi makanan dan mana keracunan makanan karena histamin. Penyebabnya sama yaitu senyawa histamin, akibat yang ditimbulkan juga kurang lebih sama, namun prosesnya berbeda. Alergi disebabkan karena proses yang keliru dari sistem pertahanan tubuh yang menghasilkan histamin. Sedangkan keracunan karena tingginya konsentrasi histamin yang masuk dalam tubuh.

Saya jadi teringat mengenai cerita-cerita yang beredar di group WA mengenai larangan “Jangan memakan udang dan keping dengan jus jeruk..!“, atau “jangan makan udang dengan vitamin C..!” katanya bisa menyebabkan kematian. Saya juga pernah membaca mengenai seorang anak yang meninggal setelah memakan udang dan minum susu setelahnya. Jika berita itu benar, menurut saya itu bukan karena reaksi antara daging udang dan air jeruk atau udang dengan susu. Itu adalah efek dari alergi yang tidak ditangani segera.


Saya juga pernah mendengar sebuah cerita tentang keluarga yang sedang makan di rumah makan seafood di Makassar yang kemudian salah satu anggota keluarganya tiba-tiba tidak dapat bernafas setelah melihat bill tagihan makanan. Salah seorang keluarganya langsung berteriak dan mencari pemilik rumah makan tersebut, dan katanya akan melaporkan ke polisi jika sampai keluarganya tersebut meninggal karena diindikasi makanan yang disajikan mengandung racun. Padahal setelah dilarikan ke Rumah sakit, diketahui penyebabnya adalah alergi, dan memang memiliki riwayat alergi.

Alergi ini memang tidak boleh dipandang enteng. Banyak orang yang tidak sadar kalau dirinya memiliki alergi. Alergi juga merupakan faktor gen, namun bukan berarti ketika saudara atau orang tua alergi, kita otomatis akan alergi juga.

Salah seorang teman anak saya yang di TK memiliki alergi yang sangat parah, efeknya bisa bikin panik bagi orang yang tidak mengetahuinya. Dia alergi susu, kacang, gluten, dan coklat. Sedikit saja makanan itu masuk ke perutnya, efeknya bisa bikin tidak sekolah seminggu karena gatal, ruam merah, batuk, sesak nafas atau diare. Kakaknya yang di SD juga begitu katanya, namun kedua orang tuanya tidak memiliki riwayat alergi seperti itu.

Peran Immunoglobulin E

Saya kemudian jadi bertanya, “jadi… sebenarnya untuk apa antibodi Immunoglobulin E (IgE) itu diciptakan Tuhan?“. Karena jika dipikir-pikir hanya membuat manusia tersiksa karena kesalahannya menginterpretasi senyawa-senyawa alergen yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh manusia.

Saya pun tahu jawabannya setelah berdiskusi dengan Kak Joko tahun lalu, seorang senior dosen dan dokter di Unhas. Saat bertemu dengan beliau, sebagai seorang junior yang baik pastilah cium tangan dulu dengan senior untuk menghormati keilmuan beliau.

Saya sudah pernah ceritakan sebelumnya di sini, bahwa dari penelitian Kak Joko ini bisa ditarik kesimpulan bahwa anak-anak dari Sumba pada umumnya cacingan namun jarang yang alergi, sedangkan anak-anak di Jepang jarang ada yang cacingan namun sangat rentan untuk alergi.

Setelah saya membaca salah satu artikel, Penelitian Bridget Ogilvie tahun 1964 menemukan bahwa beberapa tikus yang terinfeksi cacing menghasilkan sejumlah antibodi IgE. IgE ini lah yang akan mengirimkan sinyal kepada sistem kekebalan tubuh untuk melepaskan serangan yang merusak pada cacing. Dan ternyata penelitian-penelitian lain juga banyak yang melihat peranan IgE melawan parasit seperti cacing dalam tubuh.

Mungkin sel-sel tubuh nenek moyang kita telah berevolusi mengenali jenis-jenis protein yang ada pada permukaan kulit cacing kemudian membuat SOP sistem pertahanan tubuh seperti yang ada pada manusia zaman now. Jika salah satu anggota tubuh menemukan jenis protein tersebut, maka tubuh secara otomatis akan mengaktifkan pasukan khusus anti terornya yaitu IgE. Itulah sebabnya anak-anak yang cacingan jarang alergi karena pasukan khusus anti terornya sibuk melawan cacing dibandingkan zat alergen lain yang masuk dalam tubuhnya.

Setelah Kak Joko menjelaskan bahwa penelitiannya adalah meneliti sampel feses anak-anak di Jepang dan di Sumba, saya langsung paham darimana sumber aroma tak sedap saat cium tangan waktu bertemu dulu. hehehehe.

Sumber bacaan:

  1. The regulation of immunoglobulin E class-switch recombination
  2. Allergies
  3. Why do we have allergies?
  4. Bridget Ogilvie: Reagin-like Antibodies in Animals Immune to Helminth Parasites
Februadi Bastian
Kontributor

Seorang dosen Ilmu pangan di Universitas Hasanuddin. Hobi motret, masak, dan design grafis.
Tulisannya juga dapat dibaca di februadibastian.blogspot.com


1 Response

  1. Pingback : Produk Rekayasa Genetika, good bye GMO. | filsafood

Leave a Reply

You are donating to : Filsafood donation

How much would you like to donate?
$10 $20 $30
Would you like to make regular donations? I would like to make donation(s)
How many times would you like this to recur? (including this payment) *
Name *
Last Name *
Email *
Phone
Address
Additional Note
Loading...